Banner 468

Minggu, 02 Oktober 2011

Tradisi Tasyakuran sebelum berangkat Haji.

Jakarta - Beberapa hari lagi umat Islam di Indonesia akan menjumpai fenomena tasyakuran keberangkatan haji. Tradisi 'setengah ritual' yang biasanya dilakukan oleh mayoritas Muslim tradisionalis di masyarakat kita ini merupakan salah satu ciri khas Islam Nusantara. Sementara tasyakuran kepulangan haji di masyarakat Arab dikenal dengan 'Asyaa-ul Hajj (Dinner Hajj).

Tasyakuran haji yang juga disebut dengan term 'walimatul safar' itu sebenarnya tidak dikenal dalam diskursus yurispendensi Islam (Fiqh). Acara yang telah menjadi al-Urf (adat) ini ialah produk analogi dari ritual "al-Naqi'ah".
Yaitu sebuah acara jamuan makan bersama yang dilakukan oleh seseorang yang pulang dari bepergian.


Sementara dasar al-Naqiah dapat dilihat dalam HR Bukhari: 2923. Menurut mazhab Syafi'i dalam 'Hasyiyah al-Qalyubi', al-Naqi'ah mustahab (sangat dianjurkan) bagi mereka yang pulang dari menunaikan ibadah haji --alias bukan saat keberangkatan ke tanah suci--, tujuannya agar menjadi media sharing pengalaman dari Makkah-Madinah.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai hukum dan teknis pelaksanaannya, saya sepakat bahwa motivasi awal penyelenggaraan tasyakuran keberangkatan haji itu bervariasi. Di antaranya, untuk berbagi kebahagiaan atas nikmat-Nya, mensupport mereka yang belum bertekad menunaikan salah satu rukun Islam itu, sebagai ritual permohonan keselamatan bagi calon haji, media silaturrahim dan pamitan. Namun pada realitanya, --entah diakui atau tidak-- praktik tasyakuran haji terkadang justru melenceng dari anjuran Islam tentang arti kesederhanaan dan makna rendah hati. Tidak sedikit yang menjadikan tasyakuran haji sebagai ajang prestis dan mengekspresikan hedonisme. Bahkan biaya untuk mengadakan 'party' itu ada yang menelan dana jauh lebih besar dari ONH itu sendiri.

Bukankah ini bentuk dari pemborosan dan wujud kesombongan yang jelas-jelas dilarang Islam? Tidakkah uang sebanyak itu akan bermanfaat jika disedekahkah kepada mereka yang lebih membutuhkan, seperti fakir miskin dan yatim piatu, dibandingkan didistribusikan dalam bentuk konsumsi kepada orang terdekat? Inilah salah satu contoh ironisme sebagian Muslim di lingkungan kita yang kontraproduktif.

Di satu sisi, kita ingin mengamalkan firman "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan,” akan tetapi di sisi lain secara bersamaan, kita juga melanggar ayat "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan," dan "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Menyikapi ekses motivasi tasyakuran haji yang berlebihan ini, sudah selayaknya kita introspeksi, sejauh mana dampak positif tasyakuran tersebut pada substansi haji yang kita inginkan. Karena dalam realitanya, motivasi yang berlebihan dapat menyebabkan orang tidak sensitif terhadap kondisi sekitar. Ingat, yang terjadi di masyarakat kita belakangan ini ialah, semakin tinggi gengsi seorang calon haji, maka semakin mewah tasyakuran yang digelar. Penceramah yang diundang pun disesuaikan dengan ‘kelas’ tasyakuran.

Merespon fenomena tasyakuran haji, sebaiknya kita hadapi dengan bijak. Jangan sampai kita terjebak dalam dikotomi, antara seolah-olah 'mewajibkan' dan seakan-akan 'mengharamkan' pelaksanaan tasyakuran haji. Mereka yang seolah-olah mewajibkan, beranggapan bahwa tasyakuran merupakan sebuah rangkaian yang tak terpisahkan dari manasik haji. Sedangkan mereka yang seakan-akan mengharamkan, berasumsi bahwa momentum tersebut ialah negatif.

Dengan demikian, menurut hemat saya, sudah sepantasnya kita menyikapi dikotomi tersebut dengan cara mengambil jalan tengah, yaitu tetap menyelenggarakan tasyakuran, namun sesederhana mungkin, seperti model tasyakuran haji di Malaysia. Karena jika kita menolak menyelenggarakan tasyakuran sebagai media pamitan, tidak menutup kemungkinan kita akan dicap oleh masyarakat sekeliling sebagai orang yang bakhil dan riya'. Terakhir, semoga kita menjadi insan yang proporsional dalam menyikapi perbedaan tasyakuran haji.

*) Ahmad Syukron Amin adalah mahasiswa Yemenia University Sana'a-Yaman, dan tenaga musiman (temus) haji 2011. Dapat dihubungi via akun Twitter: @syukronamin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mau ngoceh,atau komentar silakan di sini aje...
Jangan lupa pilih profilnya " Anonymous "